
dru, kalo boleh hiperbola sekali aja, duniaku sebelum ada kamu tuh kayak kertas putih bersih yang belum pernah kena tinta warna apapun. lalu aku anggap cece jadi orang pertama yang bisa goresin warna satu persatu pakai pulpen 0.1 warna hitam. bukan berarti cece nggak bikin hidupku berwarna ya, tapi kita ibaratkan saja begitu.
kemudian ada iki. warna merah dengan ukuran 0.2, aku anggap dia merah karena warna yang dia kasih ke hidupku cukup lumayan bikin aku sakit dan butuh waktu lama untuk recovery dari patah hati cinta pertamaku. mungkin nggak banyak orang tau dan nggak banyak orang sadar kalau aku habisin waktu dua tahunku untuk naksir iki. bahkan nggak cuman naksir, aku beneran sejatuh cinta itu sama iki.
dru, aku nggak bisa ingat banyak nama orang. aku juga selalu kesusahan untuk hapalin tiap nama dan wajah orang yang baru aku kenal. aku mudah lupain orang begitu aja. aku harus selalu tanya cece setiap kali aku mau panggil orang karena aku selalu nggak inget siapa nama temen sekelasku yang mau aku panggil.
dru, aku juga nggak suka jalan sendirian tanpa arah yang jelas. aku nggak suka keramaian. aku nggak suka suara bising selain suara musik yang diputar keras di telingaku soalnya aku nggak mau denger suara papa marah-marahin nilaiku yang anjlok. aku juga nggak suka suara jalanan karena banyak suara klakson berisik orang-orang nggak sabaran.
dru, aku lebih suka marathon di track pacu yang jelas arahnya kemana. aku lebih seneng kalau tau arah jalanku ini sebenarnya mau dibawa kemana. aku lebih seneng kalau ada orang yang bisa ngarahin aku harus kemana tanpa perlu tanya dulu aku maunya kemana. aku lebih milih untuk nerima, kalau papa sama mama udah beri aku rute yang jelas biar pas nanti jalan sendirian aku nggak akan takut tersesat.
dru, aku nggak suka wewangian yang menyengat. aku nggak suka warna terang mencolok. aku nggak suka ada orang yang lebih suka tidur selain aku. aku nggak suka ngobrol sama orang pendiam karena diamnya mereka aku jadi perlu mikirin banyak topik biar bisa di obrolin.
dru, duniaku agak aneh ya? monoton dan terlalu membosankan kalau aku baca ulang apa yang udah kutulis di atas. kalau diibaratin jadi sebuah warna, mungkin warnanya nggak akan jauh dari hitam, putih, merah, atau bisa jadi biru karena aku suka warna biru.
ya meski kata cece warna biru lebih menyedihkan dan terlalu dalam perihal kesedihan serta duka dibandingkan warna hitam (jelas aku nggak percaya, soalnya hitam selalu jadi warna yang lebih menyedihkan buatku)
terus tiba-tiba aku ketemu kamu. hari senin, hari pertama masuk tahun ajaran baru. wangi sabun kamu menyeruak di hidung aku. wanginya asing tapi cukup adiktif dan jadi selalu mau aku hirup wanginya setiap hari.